Masih kanak-kanak kita sudah diajarkan tentang Tuhan oleh orang tua, guru dan orang-orang disekeliling kita bahwa tuhan itu ada atas (langit) dan selalu dekat sehingga bila kita berbincang dan ada yang bertanya tentang Tuhan selalu menunjuk ke atas mengikuti (taklid) kebiasaan orang tua dan guru kita termasuk para ustadz dalam ceramahnya. Itu semua tidak salah karena dalam al-quran dijelaskan bahwa Allah itu bersemayam dilangit ketujuh yakni di Arsy. Tetapi berdasarkan berbagai kajian, buku dan informasi yang telah dipelajari selama ini ternyata apa yang kita anggap langit itu hanyalah jarak batas pandang manusia dan warna kebiruan itu hanyalah radiasi dari pantulan sinar matahari terhadap air laut. ini dibuktikan pula bahwa Rasulullah pertama kali menerima wahyu bukan dilangit tetapi di Gua Hira Sehingga timbul pertanyaan dimana Allah dan langit (arsy) sebenarnya ??
Dalam “QS. Qaaf :16 Allah berfirman “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.
Urat adanya dalam tubuh kita, apalagi keberadaan Tuhan lebih dekat lagi kebersamaannya dengan kita. Firman ini memberitahukan dengan jelas kepada kita bahwa Allah bersama disetiap diri manusia (makhluk hidup) bukan pada benda mati atau berada di satu negara atau dimana-mana seperti jawaban kebanyakan orang, karena di dunia kehidupan ini yang menggerakkan ialah yang Maha Hidup melalui Dzat, Sifat, Asma dan Af’al-Nya artinya Allah selalu bersama kita dimana saja kita berada dan Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan.
Makanya Rasulullah sebagai nabi yang lebih dikenal dengan nabi syariat banyak mempersoalkan keselamatan dan kesehatan jasmani (syariat) karena beliau berharap umatnya mengerti betapa pentingnya pembersihan jasmani dan rohani secara total, yang lebih populer dengan di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa/pikiran yang sehat/ waras, artinya tubuh dibersihkan dengan air jiwa dibersihkan dengan niat dan pikiran yang baik.
Seperti apa dan bagaimana Allah itu ? Allah memiliki apa saja tanpa ada batasnya, tetapi tak sepatah katapun sanggup menggambarkan-Nya. Kalau disebut mata Allah, janganlah terjebak oleh gambaran tentang benda mata. Tuhan Maha Suci dari kerendahan benda-benda. Disebut mata Allah karena kita hanya mampu menggunakan bahasa manusia. Tetapi Tuhan itu sendiri Maha Suci dari segala pengertian dan bayangan kita. Bahkan huruf – huruf yang termuat dalam kata Allah, sama sekali tidaklah mewakili Dzat-Nya. Tuhan Maha tak tersentuh oleh setiap gagasan manusia. Manusia hanya mengenali bayangan-Nya, tetapi bayangan-Nya bukanlah Ia. Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. jika didunia ini kita tidak mengetahui siapa yang disembah, akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia. Dalam al-furqan Al-Isra : 36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya”
Allah hadir didalam dunia dan didalam akhirat hanyalah firman, selain itu tidak ada. Tuhan itu tidak sama keberadaannya dengan makhluk-Nya, artinya “Tidak ada seorangpun yang menyerupai-Nya”, (QS. Al-Ikhlas:5) baik jasad maupun rohani ataupun cahaya. Tuhan tidak mempunyai telinga, mata, hidung, tangan dan kaki seperti manusia tetapi Tuhan itu segala maha yang tidak dapat dilukiskan oleh seorang ahli pelukis manapun. Dialah Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mencium, Yang Maha Peraba dan dialah Yang Maha Berjalan semua itu disebut dengan Dzat Allah dengan segala kekuasaan dan kekuatan firmannya meliputi seluruh alam semesta ini yang sebagian firman-Nya telah diwujudkan dengan Sifat, Nama dan Perbuatan Tuhan dengan Perilaku alam semesta beserta isinya sehingga alam semesta ini makhluk hidup seperti manusia, hewan dan pepohonan terdapat rasa yang sama, ada rasa sakit, rasa senang, rasa lapar dan sebagainya.
Denyutan jantung, darah yang mengalir dalam tubuh, limpa, hati, paru-paru, otak dan sebagainya. Siapa yang menggerakannya selain Tuhan ? Bilamana teratur gerak kesemua organ tersebut bolehlah tubuh itu bergerak, adakah ini menunjukan keupayaan gerak atau afaal itu berlaku dalam daya dan upaya kita? itu semua disebut Af’al-Nya. Keberadaan firman-Nya ini dimiliki oleh setiap makhluk yang hidup di dunia dan akhirat tetapi hanya dapat di mengerti keberadaan firmannya ini hanya pada makhluk yang bernama manusia yang dapat dengan sempurna menggunakan akalnya karena diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana firman-Nya “Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhan-Nya dan kekafiran orang-orang yang kafir tidak lain hanyalah menambah kerugian mereka belaka”.
Kalau demikian, untuk apa jauh-jauh mencari/bertemu dengan Allah, bukankah Allah selalu bersama kita dan melarang umatnya melangkahkan kaki serta niat walaupun selangkah untuk melakukan sholat dengan cara menghadap ke benda mati (berhala) ? Nabi Ibrahim menghancurkan patung berhala buatan bapaknya, walaupun mungkin hakekatnya bukan menyembah batu (patung) itu, tetapi dewa (Tuhan) yang diwujudkan dalam patung itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar