Jumat, 28 Desember 2007

EKSISTENSI TUHAN

Masih kanak-kanak kita sudah diajarkan tentang Tuhan oleh orang tua, guru dan orang-orang disekeliling kita bahwa tuhan itu ada atas (langit) dan selalu dekat sehingga bila kita berbincang dan ada yang bertanya tentang Tuhan selalu menunjuk ke atas mengikuti (taklid) kebiasaan orang tua dan guru kita termasuk para ustadz dalam ceramahnya. Itu semua tidak salah karena dalam al-quran dijelaskan bahwa Allah itu bersemayam dilangit ketujuh yakni di Arsy. Tetapi berdasarkan berbagai kajian, buku dan informasi yang telah dipelajari selama ini ternyata apa yang kita anggap langit itu hanyalah jarak batas pandang manusia dan warna kebiruan itu hanyalah radiasi dari pantulan sinar matahari terhadap air laut. ini dibuktikan pula bahwa Rasulullah pertama kali menerima wahyu bukan dilangit tetapi di Gua Hira Sehingga timbul pertanyaan dimana Allah dan langit (arsy) sebenarnya ??

Dalam “QS. Qaaf :16 Allah berfirman “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.

Urat adanya dalam tubuh kita, apalagi keberadaan Tuhan lebih dekat lagi kebersamaannya dengan kita. Firman ini memberitahukan dengan jelas kepada kita bahwa Allah bersama disetiap diri manusia (makhluk hidup) bukan pada benda mati atau berada di satu negara atau dimana-mana seperti jawaban kebanyakan orang, karena di dunia kehidupan ini yang menggerakkan ialah yang Maha Hidup melalui Dzat, Sifat, Asma dan Af’al-Nya artinya Allah selalu bersama kita dimana saja kita berada dan Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan.

Makanya Rasulullah sebagai nabi yang lebih dikenal dengan nabi syariat banyak mempersoalkan keselamatan dan kesehatan jasmani (syariat) karena beliau berharap umatnya mengerti betapa pentingnya pembersihan jasmani dan rohani secara total, yang lebih populer dengan di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa/pikiran yang sehat/ waras, artinya tubuh dibersihkan dengan air jiwa dibersihkan dengan niat dan pikiran yang baik.

Seperti apa dan bagaimana Allah itu ? Allah memiliki apa saja tanpa ada batasnya, tetapi tak sepatah katapun sanggup menggambarkan-Nya. Kalau disebut mata Allah, janganlah terjebak oleh gambaran tentang benda mata. Tuhan Maha Suci dari kerendahan benda-benda. Disebut mata Allah karena kita hanya mampu menggunakan bahasa manusia. Tetapi Tuhan itu sendiri Maha Suci dari segala pengertian dan bayangan kita. Bahkan huruf – huruf yang termuat dalam kata Allah, sama sekali tidaklah mewakili Dzat-Nya. Tuhan Maha tak tersentuh oleh setiap gagasan manusia. Manusia hanya mengenali bayangan-Nya, tetapi bayangan-Nya bukanlah Ia. Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. jika didunia ini kita tidak mengetahui siapa yang disembah, akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia. Dalam al-furqan Al-Isra : 36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya”

Allah hadir didalam dunia dan didalam akhirat hanyalah firman, selain itu tidak ada. Tuhan itu tidak sama keberadaannya dengan makhluk-Nya, artinya “Tidak ada seorangpun yang menyerupai-Nya”, (QS. Al-Ikhlas:5) baik jasad maupun rohani ataupun cahaya. Tuhan tidak mempunyai telinga, mata, hidung, tangan dan kaki seperti manusia tetapi Tuhan itu segala maha yang tidak dapat dilukiskan oleh seorang ahli pelukis manapun. Dialah Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mencium, Yang Maha Peraba dan dialah Yang Maha Berjalan semua itu disebut dengan Dzat Allah dengan segala kekuasaan dan kekuatan firmannya meliputi seluruh alam semesta ini yang sebagian firman-Nya telah diwujudkan dengan Sifat, Nama dan Perbuatan Tuhan dengan Perilaku alam semesta beserta isinya sehingga alam semesta ini makhluk hidup seperti manusia, hewan dan pepohonan terdapat rasa yang sama, ada rasa sakit, rasa senang, rasa lapar dan sebagainya.

Denyutan jantung, darah yang mengalir dalam tubuh, limpa, hati, paru-paru, otak dan sebagainya. Siapa yang menggerakannya selain Tuhan ? Bilamana teratur gerak kesemua organ tersebut bolehlah tubuh itu bergerak, adakah ini menunjukan keupayaan gerak atau afaal itu berlaku dalam daya dan upaya kita? itu semua disebut Af’al-Nya. Keberadaan firman-Nya ini dimiliki oleh setiap makhluk yang hidup di dunia dan akhirat tetapi hanya dapat di mengerti keberadaan firmannya ini hanya pada makhluk yang bernama manusia yang dapat dengan sempurna menggunakan akalnya karena diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana firman-Nya “Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhan-Nya dan kekafiran orang-orang yang kafir tidak lain hanyalah menambah kerugian mereka belaka”.

Kalau demikian, untuk apa jauh-jauh mencari/bertemu dengan Allah, bukankah Allah selalu bersama kita dan melarang umatnya melangkahkan kaki serta niat walaupun selangkah untuk melakukan sholat dengan cara menghadap ke benda mati (berhala) ? Nabi Ibrahim menghancurkan patung berhala buatan bapaknya, walaupun mungkin hakekatnya bukan menyembah batu (patung) itu, tetapi dewa (Tuhan) yang diwujudkan dalam patung itu.

Herannya sekarang, justeru orang beramai-ramai mendatangi suatu tempat yang dibangun oleh ibrahim dan dan sholat dengan cara bersujud didepannya.

EKSISTENSI AKAL

Sempurnanya manusia karena tuhan memberikan pegangan senjata/alat kepada setiap manusia yaitu akal, akal ini agar dipergunakan dengan sebaik-baiknya sehingga dengan kesempurnaan akalnya dapat mengetahui dengan jelas siapa dirinya, siap tuhannya dan siapa sesamanya sekaligus mengetahui siapa kedua orang tuanya dan dapat menyadarkan kepada dirinya bahwa pada mulanya dia tidak ada, sekarang ada.

Akal adalah kebutuhan yang paling pokok dan sangat menunjang di dalam segala hal termasuk menyangkut peningkatan peradaban, peningkatan segala macam disiplin ilmu dan sebagai wujud perbedaan daari segala makhluk hidup di atas muka bumi ini. Maju mundurnya suatu negara sampai sebatas mana penggunaan akalnya. Karena itu akal adalah kunci dari keberhasilan atau tidaknya di dalam dunia ini bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk melihat sampai sejauh mana keberadaan hal tersebut, bagi yang dapat menggunakan dan tidak dapat menggunakan akalnya, kita dapat melihat binatang-binatang dengan perilaku kehidupannya sehari-hari hanya begitu-begitu saja, berjalan di dalam kehidupannya sesuai dengan naluri keturunannya, tidak ada yang berpikir untuk membuat perubahan yang berarti dalam peningkatan sarana dan prasarana kehidupannya. Tidak seperti manusia yang ingin selalu berubah/maju, seperti membuat kendaraan, membuat pembangkit tenaga listrik dan sebagainya. Hal ini dikarenakan binatang tidak dapat bicara pada dirinya sendiri, sebaliknya manusia bila ada masalah yang rumit atau mempunyai keinginan (cita-cita) selalu dipertanyakan pada dirinya sehingga untuk mengambil suatu keputusan/jalan keluar dari suatu perkara selalu mengambil dari akhir pembicaraan pada dirinya tersebut, sehingga bila ia berhasil maka dia atau orang lain akan menyebut akalnya bagus, tetapi bila hasilnya jelek maka ia sendiri akan marah-marah dan mengatakan “Ih.. ana ini bodoh skali”. Kadangkala kepalanya dipukul-pukul sehingga dia akan mencari lagi untuk mendapatkan hasil yang terbaik, itu yang dinamakan PIKIRAN. Setelah mendapatkan hasil keputusan yang dianggap baik/tepat maka inilah yang dinamakan AKAL.

Akal itu adalah berbicara berbicara pada dirinya sendiri di dalam hati, sebagai alat atau pegangan dalam menyelesaikan suatu keputusan. Orang-orang yang beragama banyak yang mengatakan bahwa agama itu adalah pegangan. Memang benar karena hasil akhir dari pemikiran itu akan dijadikan pegangan (akal). Jadi arti sesungguhnya agama adalah akal, dan akal ini akan melahirkan ilmu pengetahuan sedangkan ilmu pengetahuan ini diwajibkan oleh Tuhan dan Rasulnya untuk dicari dan didapatkan. Dengan kata lain akal disini adalah berbicara sendiri dalam hati untuk menghasilkan yang terbaik dan benar yang akan dihadirkan/ditempatkan dimuka bumi ini. Tetapi jangan sekali-kali ENTE berbicara sendiri lewat mulut, karena dapat dikatakan kurang waras atau BIONGO.

Akal ini harus dikenalkan dahulu dengan sifat dan nama-nama baik tuhan dengan cara membaca kitab suci yang dibawa oleh utusan-utusanNya. Kita jangan hanya asal baca saja tetapi harus tahu dengan jelas makna dan tujuannya dengan cara disaring, dikaji dan dipikirkan, sehingga akan menghasilkan makna yang terbaik dan sempurna sehingga akalnya ini akan melahirkan ketentraman, kedamaian, kemanan, kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, kebahagiaan, kejujuran, kebijaksanaan, kemajuan, kedewasaan dan kesehatan lahir bathin sehingga akan tercapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.

Agama itu adalah akal, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.

Akal yang dimiliki oleh semua umat manusia yang berada di atas bumi ini sama tidak ada bedanya. Tinggal bagaimana akal itu dapat mengenal Tuhannya secara benar dan sehat.

Tuhan mengazab orang yang tidak menggunakan akalnya dan menganggapnya binatang sebagaimana firman-Nya Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. QS. Al-Anfaal : 22 dan masih banyak ayat-ayat dalam al-furqon yang mengangkat tentang akal.

Nabi Ibrahim menghancurkan patung berhala buatan bapaknya, walaupun mungkin hakekatnya bukan menyembah patung itu, tetapi dewa (Tuhan) yang diwujudkan dalam patung itu. Ibrahim tidak mau tahu alasan-alasan yang dibuat-buat/direkayasa oleh ayahnya dan tokoh agama pada saat itu, yang jelas didepan matanya ada keyakinan yang tidak masuk akal menurut Beliau. Dalam pikiran/benak beliau selalu ingin bertemu dengan tuhan yang sebenarnya dengan kekuatan akalnya, lalu beliau melihat matahari dan bertanya apa matahari itu Tuhan ?? tetapi matahari itu tenggelam, masa Tuhan tenggelam, dia melihat bulan tetapi sama juga bulan tenggelam pula, diteruskan ke gunung-gunung sampai akhirnya menemukan sungai dan bercermin disungai itu, lalu beliau berpikir mengenai dirinya, siapa aku sebenarnya ? akhirnya ia mengkaji diri untuk menemukan Tuhannya. Setelah puas dan dan dapat dipertanggungjawabkan lalu ia kembali ke kampung halamannya, tidak takut diancam atau dianggap kurang waras, dianggap tukang sihir atau ucapan-ucapan keji lainnya dari manusia sirik dan bodoh. Oleh raja namruz ia malah diambut dengan hukuman dengan menyuruh pengawalnya mengumpulkan kayu bakar untuk persiapan membakar Nabi Ibrahim, maka ditangkaplah Ibrahim dan dibakar dengan kejamnya, tetapi ternyata api menjadi saaudaranya, sedikitpun tidak dapat menghancurkan ibrahim. Disini Tuhan memperlihatkan kemukjijatannya kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

Kamis, 27 Desember 2007

AL-QURAN HANYA SYAIR

“Dan kami turunkan (Al-quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan”(QSAl-Isra:105)


Al-furqan merupakan sumber ilmu pengetahuan bagi seluruh umat dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Ajarannya sangat luas serta ditujukan kepada seluruh umat manusia dalam perikehidupan yang bagaimanapun juga, kepada kaum yang masih primitf, kaum yang telah mencapai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, bagi seorang pertapa, orang yang tuli, buta, cacat, kaya, miskin, yang pandai maupun yang bodoh, meliputi segala lapangan kegiatan manusia.

Keberadaan Al-furqan adalah sebagai penerang bagi seluruh umat manusia, petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal dalam membedakan antara yang hak dan yang bathil, yang benar dan yang salah, yang haram dan halal, perintah maupun larangan dan aturan kehidupan lainnya, bukan untuk dibacakan kepada orang yang lagi sakaratul maut, disyairkan atau dilagukan, diwiridkan untuk mendapatkan harta yang banyak. Hal ini jelas dalam al-furqan Allah berfirman “Al-quran ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”(QS.Al-Imran:138).

Namun, Rasulullah pernah meramalkan bahwa akan datang suatu masa orang-orang memperlakukan al-furqan hanyalah bunyi-bunyian, tak ubahnya seruling. Al-furqan dianggap hanya sebuah seni, bukam tuntutan dari Tuhan.

Dikaitkan dengan hal itu, kondisi saat ini mulai menampakkan apa yang dikhawatirkan Rasulullah SAW. Contoh : PERTAMA : Sumpah para pejabat dengan meletakkan kitab suci di atas kepalanya, hasilnya ternyata banyak yang mengingkarinya walaupun pejabat yang sudah bergelar haji sekalipun, ternyata korupnya tidak ketulungan, proyek negara yang biayanya di mark up (KKN yang berselubung administrasi) dan sebagainya. KEDUA : Orang lebih banyak memperindah lafadz / lagunya ketimbang mengambil nilai yang terkandung di dalamnya. Terlihat dengan banyaknya sikap manusia lebih suka beramal salah (maksiat, berbuat kerusakan, korupsi, merampok hak orang miskin dan anak yatim) ketimbang beramal saleh.

Hal ini disebabkan karena dalam memahami al-furqan, orang lebih mementingkan hafalan daripada maknanya, dalam hal ini memperindah lagu/bunyinya tanpa mau mengkaji dan memahami isi dan makna yang terkandung didalamnya, sehingga yang diperoleh bukan keimanan yang sehat tetapi pantun, lagu/syair yang dikumandangkan. Bahkan pemerintah dengan penuh kebanggaan mengeluarkan dana milyaran rupiah menyelenggarakan sebuah kegiatan hanya untuk mendapatkan syair/lagu/suara terbagus dan merdu (secara lahiriah) sementara imannya, hatinya, akhlaknya, moralnya, bathinnya bolong/keropos karena tidak memahami apa yang dibacanya. Akhirnya terkesan Ayat-ayat Allah dijual dengan harga yang sedikit, karena disitu niatnya bukan PAHALA tetapi JUARA dan PIALA. Jadi prakteknya bertentangan dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam QS.Yassin:69 menjelaskan “Dan Tuhan tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan syair tidaklah layak baginya, Al-quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan” kalau hanya untuk mengundang para investor, memperkenalkan budaya dan memberikan penghasilan

Firman ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak suka mendengarkan lagu/syair manusia, yang Tuhan sukai adalah hati dan pikiran umat yang suci serta kesungguhan hati manusia untuk menemuinya agar mendapat ridho dan mendapat petunjuk-Nya. Tentang syair/lagu yang manusia ciptakan dan ucapkan walau dengan tata bahasa yang bagus sekalipun, itu hanya untuk sesama manusia sebagai seni dalam kehidupan kebudayaan masing-masing.

Rasulullah pernah mengungkapkan bahwa masuk surga sulitnya ibarat unta masuk ke lubang jarum, artinya kalau memakai jasad (duniawi), jelas tidak akan masuk, tetapi kalau rohaninya yang bersih karena mengikuti sifat dan asma Tuhan, maka itulah yang bisa masuk surga, kalau masih mengejar duniawi dengan membabi buta, tidak tahu baik dan buruk, halal dan haram memang susah untuk masuk ke surga, maka disini yang lebih berbobot rohaninya, walau orang itu tidak bisa membaca al-quran, menyanyi, bicara (tuna wicara) tetapi mereka mempunyai suara hati, suara yang diberikan oleh Allah untuk bias berhubungan denganNya.

Seandainya zaman kita ini yang dimaksud oleh Rasulullah dalam haditsnya, mari kita manfaatkan al-furqan sesuai koridor yang sebenarnya sebagai bahan pelajaran dan peringatan bagi kita sekalian untuk mencapai rahmatan lil alamin. Pemerintah sebagai pengelola uang rakyat harusnya lebih bijaksana dalam menggunakannya terutama membantu orang-orang yang masih hidup dalam kemiskinan dan kebodohan karena kemiskinan dan kebodohan (kefakiran) lebih dekat kepada kekafiran, membenahi akhlak rakyatnya secara berkesinambungan berdasarkan Al-furqan dan Hadits ketimbang melaksanakan kegiatan ceremonial yang hanya untuk mendapatkan suara terbagus.

Agar islam kita ini harum dan dihargai oleh masyarakat dunia, kita perlu memperbaiki dan menata kembali keimanan kita dengan menghadap lurus kepada yang hak, bukan menghadap ke benda mati. Kita jalin kebersamaan dan persaudaraan dibawah satu bendera Tiada Tuhan Selain Allah yang berdasarkan HATI NURANI dan RASA. Tidak ada jaminan dari Allah bahwa orang yang bacaan al-furqannya paling bagus ia yang lebih dahulu masuk surga, tetapi yang dijamin oleh Allah adalah orang yang paling baik dan mulia akhlaknya, orang yang menjadikan al-furqan sebagai bahan pelajaran dan peringatan dalam melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya sebagaimana yang diwahyukan-Nya “(Al-quran) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran” (QS-Ibrahim;52)

Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi ….!!

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah seorangpun yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) daripada Allah sesudah itu ? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal” QS..Al-Imran:160)

ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL ALAMIN

Kejayaan Rasulullah dalam menyebarkan syiar islam merupakan suatu sukses besar yang menakjubkan dalam sejarah dunia, dia membangkitkan bangsanya dari lembah kebodohan untuk kemudian diserahi tugas suci, yakni membawakan risalahnya kepada seluruh umat manusia. Sebab utama keberhasilannya adalah kebenaran risalah yang dibawanya, yang memuat ajaran-ajaran tentang kepercayaan, kemasyarakatan, politik dan lain-lain yang penerapannya sangat mudah dalam kehidupan bangsa dan umatnya. Risalahnya itu mengatur beberapa segi kehidupan antara lain,
  1. Segi keagamaan, islam mengharamkan menyembah patung, batu-batu berhala (menghadap benda mati), memohon bantuan kepada selain Allah. tetapi islam mengatur kehidupan manusia dengan baik, mengajarkan keimanan, kepercayaan tiada tuhan selain Allah, puasa, sholat, zakat.
  2. Segi kemasyarakatan, islam mengajarkan betapa pentingnya disiplin dan ketaatan, persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan kekeluargaan. Islam mengharamkan pertumpahan darah, pembantaian, pembunuhan dan main hakim sendiri dengan alasan apapun, islam mengangkat derajat wanita dengan memberikan kewenangan sesuai haknya sebagai ciptaan Tuhan. dan mengatur hubungan antara individu-individu dan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  3. Segi Politik, Islam mengajarkan persaudaraan dan persatuan agama, yakni kesatuan umat manusia dibawah satu naungan panji kalimah tiada Tuhan selain Allah (SATU TUHAN SEDUNIA), dasar pertalian darah diganti dengan dasar pertalian agama.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin, artinya islam dituntut menjadi angin segar yang dapat mendorong terciptanya tata kehidupan manusia yang harmonis, damai, makmur dan berkeadilan. Maka konsekuensinya, teks al-quran dan al-sunah secara internal menuntut eksklusivisme tetapi tetap berkarakter inklusif dan global.

Sebagai agama rahmatan lil alamin, secara aplikatif tertuang dalam syariah islam yang melingkupi segala aspek tata kehidupan manusia yang mencita-citakan kemaslahatan bersama di dunia dan di akhirat. dicontohkan oleh Rasulullah dalam sejarah terbentuknya komunitas (negara) Madinah yang digagas oleh beliau. Negara madinah secara formal tidak berdasarkan atas islam atau konstitusi islam. Nabi Muhammad saw “ijtihad politik” dengan mendorong masyarakat madinah untuk membuat satu konsensus bersama yang akhirnya tertuang dalam Piagam Madinah. Konsep negara madinah cukup transparan dalam “Piagam Madinah” yang mengandung nilai universalitas, keadilan, kebebasan, persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama dimata hukum.

Hal yang menarik dari piagam madinah adalah tidak ditemukan teks-teks yang menunjukkan superioritas simbol-simbol islam, seperti kata “islam”, “ayat-ayat al-quran”, ”syariat Islam” atau perlakuan khusus terhadap umat islam kota yastrib lalu berganti nama menjadi “Madinah” yang berasal dari kata Tamaddun, artinya “perbedaan”. maksudnya, kota atau negara yang mencita-citakan tatanan masyarakat berperadaban. Untuk mewujudkannya, Nabi Muhammad mengembangkan ukhuwah madaniyah yaitu komitmen bersama untuk hidup dalam sebuah kota yang berperadaban. Masyarakat madinah sangat menikmati pola penegakan syariat islam yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah, contoh, ketika Nabi Muhammad mendengar ada penduduk madinah beragama yahudi terbunuh, ia memobilisasi dana masyarakat untuk diberikan kepada keluarganya seraya bersabda “Barangsiapa yang membunuh non muslim maka ia berhadapan dengan saya”, dilain waktu nabi Muhammad SAW bangkit dari tempat duduknya saat jenazah orang yahudi lewat di depannya.

Syariat islam dalam arti pemberlakuan hukum islam juga berjalan dengan baik. Nabi Muhammad selalu mengutamakan pemecahan atas suatu masalah dibanding sanksi hukum. Sehingga masyarakat islam selalu dinamis, larut dalam upaya pemecahan masalah kemasyarakatan dan terlepas dari jeratan sanksi hukum. Sanksi hukum dalam islam memang cukup berat karena itu penerapannya harus melalui prosedur dan syarat-syarat yang juga berat. Melalui pintu madinah syariat islam bermakna saling menghormati dan menghargai, tolong menolong, cinta tanah air, mewujudkan keadilan dan kemakmuran. Islam pun dikenal karena penegakkan syariat islam secara khaffah. Maka sesungguhnya meskipun secara formal islam tidak tampak dalam lembar konstitusi negara madinah tetapi nilai-nilai piagam madinah sebenarnya merupakan substansi islam itu sendiri.

Dalam konteks keindonesiaan upaya implementasi nilai-nilai piagam madinah hanyalah dongeng belaka. Di Indonesia yang ada hanya kesewenang-wenangan baik dalam pemerintahan maupun dalam kehidupan bermasyarakat, kekerasan, maksiat, membunuh, memperkosa, kemunafikan, korupsi yang terus merajalela. Tak jelas lagi antara yang halal dan yang haram, antara kebaikan dan keburukan, yang lebih parah lagi ketika para pejabat mencari stempel pembenaran atas KKN yang dilakukannya. Para pejabat birokrat dan politisi, punya kekayaan melimpah dan mobil dengan harga ratusan juta bahkan milyaran rupiah tanpa mau melihat rakyatnya yang hidup dalam kemiskinan. Bukan hanya itu, rakyat juga tidak ketinggalan dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, mencuri, memperkosa, membunuh, menipu, berkelahi, membuat keonaran dan lain sebagainya.

Dikaitkan dengan fenomena yang ada, sepertinya pola penegakan syariat yang digalakkan oleh umat islam sekarang tidak relevan dengan perjuangan ala Rasulullah SAW, hal ini dibuktikan dengan ketika organisasi islam mengharamkan produk negara lain yang beredar di Indonesia hanya karena pertikaian masalah Ambalat, mengharamkan wanita menjadi pemimpin hanya karena persaingan politik, dan lain sebagainya. Tidak mencerminkan pola penegakan syariat yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah, yang ada sekarang adalah justeru membuat jurang pemisah dan menanam rasa kebencian pada umatnya terhadap agama dan zionis lainnya, membatasi ruang gerak agama lain yang minoritas dalam satu lingkungan masyarakat, membunuh orang-orang yang dianggap menindas umat islam. Sebuah perjuangan yang hanya mencerminkan pola perjuangan Muawiyah, seorang tokoh dijaman Nabi yang membantai Khalifah Ali bin Abi Thalib beserta anak-anaknya hanya untuk mengejar ambisinya menjadi seorang khalifah, menerapkan aturan pemerintahan dan kemasyarakatan sesuai kehendaknya (nafsunya). Tetapi, itulah realita. Sebab jika tidak demikian Indonesia tidak akan pernah dikenal oleh bangsa lain. Sebuah negeri yang berpenduduk mayoritas muslim tetapi nilai-nilai islam sudah hilang dari kultur bangsa ini. Akhirnya, agar kita tidak menjadi Muawiyah modern dan tetap menjadi pengikut Rasulullah SAW yang abadi, mari kita perbaiki diri dan bangsa ini dengan menegakkan kembali nilai-nilai islam secara benar, rasional dan kaffah, kita perbaiki pemahaman berdasarkan akal dan hati nurani sebagai senjata ampuh dalam mencari dan menegakkan kebenaran. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-quran) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih”(QS. An-Nahl;104).