Al-furqan merupakan sumber ilmu pengetahuan bagi seluruh umat dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Ajarannya sangat luas serta ditujukan kepada seluruh umat manusia dalam perikehidupan yang bagaimanapun juga, kepada kaum yang masih primitf, kaum yang telah mencapai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, bagi seorang pertapa, orang yang tuli, buta, cacat, kaya, miskin, yang pandai maupun yang bodoh, meliputi segala lapangan kegiatan manusia.
Keberadaan Al-furqan adalah sebagai penerang bagi seluruh umat manusia, petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal dalam membedakan antara yang hak dan yang bathil, yang benar dan yang salah, yang haram dan halal, perintah maupun larangan dan aturan kehidupan lainnya, bukan untuk dibacakan kepada orang yang lagi sakaratul maut, disyairkan atau dilagukan, diwiridkan untuk mendapatkan harta yang banyak. Hal ini jelas dalam al-furqan Allah berfirman “Al-quran ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”(QS.Al-Imran:138).
Namun, Rasulullah pernah meramalkan bahwa akan datang suatu masa orang-orang memperlakukan al-furqan hanyalah bunyi-bunyian, tak ubahnya seruling. Al-furqan dianggap hanya sebuah seni, bukam tuntutan dari Tuhan.
Dikaitkan dengan hal itu, kondisi saat ini mulai menampakkan apa yang dikhawatirkan Rasulullah SAW. Contoh : PERTAMA : Sumpah para pejabat dengan meletakkan kitab suci di atas kepalanya, hasilnya ternyata banyak yang mengingkarinya walaupun pejabat yang sudah bergelar haji sekalipun, ternyata korupnya tidak ketulungan, proyek negara yang biayanya di mark up (KKN yang berselubung administrasi) dan sebagainya. KEDUA : Orang lebih banyak memperindah lafadz / lagunya ketimbang mengambil nilai yang terkandung di dalamnya. Terlihat dengan banyaknya sikap manusia lebih suka beramal salah (maksiat, berbuat kerusakan, korupsi, merampok hak orang miskin dan anak yatim) ketimbang beramal saleh.
Hal ini disebabkan karena dalam memahami al-furqan, orang lebih mementingkan hafalan daripada maknanya, dalam hal ini memperindah lagu/bunyinya tanpa mau mengkaji dan memahami isi dan makna yang terkandung didalamnya, sehingga yang diperoleh bukan keimanan yang sehat tetapi pantun, lagu/syair yang dikumandangkan. Bahkan pemerintah dengan penuh kebanggaan mengeluarkan dana milyaran rupiah menyelenggarakan sebuah kegiatan hanya untuk mendapatkan syair/lagu/suara terbagus dan merdu (secara lahiriah) sementara imannya, hatinya, akhlaknya, moralnya, bathinnya bolong/keropos karena tidak memahami apa yang dibacanya. Akhirnya terkesan Ayat-ayat Allah dijual dengan harga yang sedikit, karena disitu niatnya bukan PAHALA tetapi JUARA dan PIALA. Jadi prakteknya bertentangan dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam QS.Yassin:69 menjelaskan “Dan Tuhan tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan syair tidaklah layak baginya, Al-quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan” kalau hanya untuk mengundang para investor, memperkenalkan budaya dan memberikan penghasilan
Firman ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak suka mendengarkan lagu/syair manusia, yang Tuhan sukai adalah hati dan pikiran umat yang suci serta kesungguhan hati manusia untuk menemuinya agar mendapat ridho dan mendapat petunjuk-Nya. Tentang syair/lagu yang manusia ciptakan dan ucapkan walau dengan tata bahasa yang bagus sekalipun, itu hanya untuk sesama manusia sebagai seni dalam kehidupan kebudayaan masing-masing.
Rasulullah pernah mengungkapkan bahwa masuk surga sulitnya ibarat unta masuk ke lubang jarum, artinya kalau memakai jasad (duniawi), jelas tidak akan masuk, tetapi kalau rohaninya yang bersih karena mengikuti sifat dan asma Tuhan, maka itulah yang bisa masuk surga, kalau masih mengejar duniawi dengan membabi buta, tidak tahu baik dan buruk, halal dan haram memang susah untuk masuk ke surga, maka disini yang lebih berbobot rohaninya, walau orang itu tidak bisa membaca al-quran, menyanyi, bicara (tuna wicara) tetapi mereka mempunyai suara hati, suara yang diberikan oleh Allah untuk bias berhubungan denganNya.
Seandainya zaman kita ini yang dimaksud oleh Rasulullah dalam haditsnya, mari kita manfaatkan al-furqan sesuai koridor yang sebenarnya sebagai bahan pelajaran dan peringatan bagi kita sekalian untuk mencapai rahmatan lil alamin. Pemerintah sebagai pengelola uang rakyat harusnya lebih bijaksana dalam menggunakannya terutama membantu orang-orang yang masih hidup dalam kemiskinan dan kebodohan karena kemiskinan dan kebodohan (kefakiran) lebih dekat kepada kekafiran, membenahi akhlak rakyatnya secara berkesinambungan berdasarkan Al-furqan dan Hadits ketimbang melaksanakan kegiatan ceremonial yang hanya untuk mendapatkan suara terbagus.
Agar islam kita ini harum dan dihargai oleh masyarakat dunia, kita perlu memperbaiki dan menata kembali keimanan kita dengan menghadap lurus kepada yang hak, bukan menghadap ke benda mati. Kita jalin kebersamaan dan persaudaraan dibawah satu bendera Tiada Tuhan Selain Allah yang berdasarkan HATI NURANI dan RASA. Tidak ada jaminan dari Allah bahwa orang yang bacaan al-furqannya paling bagus ia yang lebih dahulu masuk surga, tetapi yang dijamin oleh Allah adalah orang yang paling baik dan mulia akhlaknya, orang yang menjadikan al-furqan sebagai bahan pelajaran dan peringatan dalam melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya sebagaimana yang diwahyukan-Nya “(Al-quran) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran” (QS-Ibrahim;52)
Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi ….!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar